sambil nunggu acara sel KTM mulai,, mari saling memijat dan menginjak-injak,,
Jumat, 19 Agustus 2011
Senin, 01 Agustus 2011
WELCOME PARTY
http://www.facebook.com/event.php?eid=173868292681849
| Time |
07 August · 09:30 - 12:30
|
|---|---|
| Location |
Aula Serbaguna lt.4 Rs Omni Internasional, Alam Sutera
|
| Created by: | |
| For | Welcome Party Tangerang 2011 |
| More info |
contact person: Tasha (085695396913) or Haris (087771770050)
|
Kamis, 07 Juli 2011
7 Juli - Kej 44:18-21.23b-29;45:1-5; Mat 10:7-15
"Seorang pekerja patut mendapat upahnya"
(Kej 44:18-21.23b-29;45:1-5; Mat 10:7-15)
"
Pergilah dan beritakanlah: Kerajaan Sorga sudah dekat. Sembuhkanlah
orang sakit; bangkitkanlah orang mati; tahirkanlah orang kusta; usirlah
setan-setan. Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu
berikanlah pula dengan cuma-cuma. Janganlah kamu membawa emas atau perak atau tembaga dalam ikat pinggangmu. Janganlah
kamu membawa bekal dalam perjalanan, janganlah kamu membawa baju dua
helai, kasut atau tongkat, sebab seorang pekerja patut mendapat upahnya. Apabila kamu masuk kota atau desa, carilah di situ seorang yang layak dan tinggallah padanya sampai kamu berangkat. Apabila
kamu masuk rumah orang, berilah salam kepada mereka. Jika mereka layak
menerimanya, salammu itu turun ke atasnya, jika tidak, salammu itu
kembali kepadamu. Dan apabila seorang tidak menerima kamu
dan tidak mendengar perkataanmu, keluarlah dan tinggalkanlah rumah atau
kota itu dan kebaskanlah debunya dari kakimu. Aku berkata
kepadamu: Sesungguhnya pada hari penghakiman tanah Sodom dan Gomora akan
lebih ringan tanggungannya dari pada kota itu."(Mat 107-15), demikian kutipan Warta Gembira hari ini
Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:
· Salah satu motto UNESCO dalam memasuki Millenium Ketiga adalah "learning to do", yang
berarti belajar untuk berbuat atau bekerja. Maka baiklah ajakan ini
hendaknya direnungkan atau direfleksikan serta kemudian dihayati oleh
para pekerja, entah pekerjaan apapun atau apapun yang harus dikerjakan.
Ajakan tersebut secara lain dapat dikatakan 'bekerja agar terampil bekerja', bukan
bekerja demi uang atau imbal jasa/gaji, meskipun kita juga membutuhkan
gaji untuk memenuhi kebutuhan hidup pribadi atau keluarga kita. Maka
apapun yang harus kita kerjakan hendaknya dikerjakan sebaik atau
seoptimal mungkin, tenu saja pekerjaan yang baik. Ingatlah dan sadari
bahwa yang dibutuhkan oleh masyarakat masa kini maupun mendatang,
termasuk perusahaan-perusahaan apapun, adalah keterampilan bukan ijasah.
Anda kiranya dapat melihat dan memperhatikan para 'entepreneur' yang
tanpa ijazah namun sukses dalam usahanya berkat kerja keras yang tak
kenal lelah serta keterbukaan terhadap aneka macam kemungkinan dan
kesempatan. Kami berharap sikap mental 'bekerja agar terampil bekerja' ini
ditanamkan atau dibiasakan pada anak-anak di dalam keluarga dengan
teladan konkret para orangtua, serta kemudian diperdalam dan
diperkembangkan di sekolah-sekolah. "The man behind the gun" ( =manusia dibalik senjata atau alat), itulah
kata sebuah motto, yang meningatkan kita agar lebih mementingkan
manusia daripada alat-alat atau sarana-prasarana. Didiklah dan binalah
anak-anak memiliki sikap mental belajar terus-menerus dengan rendah hati
dan kerja keras, agar kelak mereka siap sedia untuk melakukan apapun
yang baik dan menyelamatkan meskipun berat dan penuh tantangan serta
hambatan maupun masalah. Tuhan telah menganugerahi aneka rahmat dan
bakat kepada kita, maka jangan disia-siakan rahmat atau bakat tersebut.
· "Mohon
bicara tuanku, izinkanlah kiranya hambamu ini mengucapkan sepatah kata
kepada tuanku, dan janganlah bangkit amarahmu kepada hambamu ini, sebab
tuanku adalah seperti Firaun sendiri" (Kej 44:18), demikian kata
Yehuda atas nama saudara-saudaranya kepada Yusuf, yang telah mereka
buang, karena mereka tidak tahu bahwa yang dihadapan mereka adalah Yusuf
adik mereka. Yehuda adalah salah satu anak Iskak, yang
tidak setuju bahwa Yusuf dibunuh, ketika saudara-saudaranya berniat
membunuh Yusuf karena irihati. Ia berusaha menyelamatkan Yusuf, dan saat
ini juga atas nama saudara-saudarannya dengan rendah hati mohon
keselamatan dari Yusuf yang telah mereka buang. Penderitaan memang
sering merupakan rahmat terselubung, dimana di dalam penderitaan kita
diingatkan akan aneka kebaikan dan kemungkinan guna penyelamatan. Dalam
penderitaan juga kita ditingatkan bahwa kita adalah manusia yang lemah
dan rapuh, penuh dengan dosa. Usaha Yehuda menyelamatkan Yusuf kiranya
menjanjikan harapan yang membahagiakan; dari penderitaan lahirlah
pengharapan, itulah kebenaran sejati. Dari kisah ini kiranya kita juga
diingatkan untuk tidak malu dan ragu sebagai kakak minta tolong kepada
adik, sebagai orangtua minta tolong pada orang muda, orang kaya minta
tolong kepada orang miskin, dst.. , dan yang tak boleh ditinggalkan
marilah kita belajar dari anak-anak perihal keutamaan-keutamaan atau
nilai-nilai kehidupan yang menyelamatkan. Kita juga diingatkan untuk
berdoa bagi mereka yang telah berbuat baik kepada kita, meskipun kita
tak tahu namanya serta dimana mereka berada.
"DiutusNyalah
seorang mendahului mereka; Yusuf, yang dijual menjadi budak. Mereka
mengimpit kakinya dengan belenggu, lehernya masuk ke dalam besi, sampai
saatnya firmanNya sudah genap dan janji Tuhan membenarkannya" (Mzm 105: 17-19)
Ign 7 Juli 2011
http://renunganimankatolik.blogspot.com/
berdoa dalam dalam keterpurukan
Ya, Allah Tuhan, saat aku kehilangan hal-hal yang paling berharga
dalam hidupku, seperti orang yang kucintai, pekerjaan, persahabatan,
mimpi ataupun harapan-harapanku, sering kali itu melemahkanku, dan
menimbilkan keraguan dalam diriku. bahkan akupun ragu terhadap
orang-oarng yang kucintai, sahabat-sahabat bahkan akan cinta-Mu,
saat itu aku merasa begitu sendirian dan diabaikan, seakan-akan tidak ada yng perduli akan penderitaan dan perasaanku,
Apabila hidupku sedang baik, dantidak banyak masalah, aku tau hal itu tidak benar,
tetapi saat aku sedang jatuh, seakan akan ditinggalkan oleh-Mu, dan orang-orang lain.
bantulah agar aku dapat bersandar dalam kasih-Mu saja dan belajar untuk hidup dari cahaya kebenaran bukan cahaya kepalsuan kegelapan, bantulah agar aku benar-benar memahami bahwa di saat-saat aku kehilangan diri-Mu dan merasa kecewa, Engkau ya Allah Tuhan ku, tak pernah dan tak akan pernah meninggalkan diriku,
selamat berdoa^^
saat itu aku merasa begitu sendirian dan diabaikan, seakan-akan tidak ada yng perduli akan penderitaan dan perasaanku,
Apabila hidupku sedang baik, dantidak banyak masalah, aku tau hal itu tidak benar,
tetapi saat aku sedang jatuh, seakan akan ditinggalkan oleh-Mu, dan orang-orang lain.
bantulah agar aku dapat bersandar dalam kasih-Mu saja dan belajar untuk hidup dari cahaya kebenaran bukan cahaya kepalsuan kegelapan, bantulah agar aku benar-benar memahami bahwa di saat-saat aku kehilangan diri-Mu dan merasa kecewa, Engkau ya Allah Tuhan ku, tak pernah dan tak akan pernah meninggalkan diriku,
selamat berdoa^^
Kamis, 30 Juni 2011
29 Juni - HR ST PETRUS DAN ST PAULUS: Kis 12:1-11; 2Tim 4:6-8.17-18; Mat 16:13-19
"Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk"
HR ST PETRUS DAN ST PAULUS: Kis 12:1-11; 2Tim 4:6-8.17-18; Mat 16:13-19
Kalau
tinggal di rumah/komunitas terus menerus alias jarang bepergian
dianggap tidak punya pekerjaan, sebaliknya kalau jarang di rumah alias
senantiasa bepergian dianggap tidak krasan, itulah anggapan atau
penilaian sementara orang terhadap yang jarang pergi dan selalu
bepergian. Hari ini kita kenangkan dua tokoh Gereja Purba, Petrus dan
Paulus, yang berbeda satu sama lain dalam hal kepribadian, tugas
pelayanan/kesibukan. Petrus sebagai wakil Kristus, pemimpin Gereja
Kristus, tinggal dan bertahta di Roma, sementara itu Paulus bepergian
terus menerus, berkeliling dunia. Didalam Gereja kita kenal apa yang
disebut hirarki dan karisma, yaitu mereka yang bertugas dalam
kepemimpinan Gereja dan mereka yang terpanggil secara khusus untuk
mewartakan Kabar Baik ke seluruh dunia, yang secara konkret adalah
Paus/Uskup/Pastor Paroki dan Anggota Lembaga Hidup Bakti, yang memiliki
karisma tertentu. Berbeda fungsi tetapi satu tugas perutusan, itulah
yang terjadi, dan diharapkan perbedaan ini tidak menjadi hambatan
melainkan merupakan kekuatan untuk bersama-sama mengemban tugas
pengutusan dari Yesus dalam mewartakan Kabar Baik ke seluruh dunia. Maka
baiklah dalam rangka mengenangkan St.Petrus dan Paulus ini kami
mengajak kita semua untuk mawas diri dalam hal bekerjasama menghayati
panggilan dan melaksanakan tugas pengutusan.
"Ikatlah pinggangmu dan kenakanlah sepatumu…Kenakanlah jubahmu dan ikutilah aku" (Kis 12:8)
Kutipan
di atas ini adalah kata malaikat kepada Petrus, yang di dalam penjara
karena kesetiaan imannya, dan merupakan panggilan untuk membebaskan diri
dari penjara. Kata-kata tersebut secara inklusif mengindikasikan bahwa
itulah jati diri seorang pemimpin Gereja, yaitu: mengikat pinggang,
mengenakan sepatu, mengenakan jubah dan mengikuti kehendak Allah.
Perintah malaikat ini kiranya boleh menjadi petunjuk tugas panggilan
segenap jajaran hirarki dari Paus sampai dengan Pastor Paroki beserta
para pembantunya. Maka baiklah saya akan merefleksikan
secara sederhana apa yang diperintahkan oleh malaikat tersebut, dan
mungkin berguna bagi para gembala umat:
1).
Salah satu fungsi ikat pinggang adalah untuk memperindah penampilan
tubuh, sehingga menarik dan mempesona bagi orang lain, maka diharapkan
sepak terjang dan kehadiran para gembala dimanapun dan kapanpun
senantiasa menarik dan mempesona orang lain, sehingga mereka juga
tergerak untuk mendekat dan mengasihinya. Tentu saja yang diharapkan
menarik dan mempesona dari para gembala bukan tubuh, melainkan cara
hidup dan cara bertindak yang baik dan berbudi pekerti luhur, dengan
kata lain cara hidup dan cara bertindak para gembala diharapkan dapat
menjadi teladan bagi umat Allah khususnya dan masyarakat pada umumnya,
sehingga umat Allah dan masyarakat tergerak semakin beriman, semakin
suci.
2).
Para gembala, khususnya paus dan para uskup pada umumnya kemana-mana
bersepatu. Sepatu antara lain berfungsi untuk melindungi telapak kaki, anggota
tubuh yang paling bawah, agar tetap bersih dan aman serta sehat.
Bolehlah kiranya kalau hal ini kita refleksikan sebagai opsi para
gembala, yaitu senantiasa berpihak pada dan bersama dengan mereka yang
miskin dan berkekurangan maupun pernyataan para gembala yang menyatakan
diri sebagai hamba yang hina dina. Maka kami berharap kepada mereka yang
berfungsi dalam kepemimpinan atau pelayanan umat Allah, di tingkat
apapun, untuk senantiasa berpihak pada atau bersama dengan mereka yang
miskin dan berkekurangan, agar mereka terangkat dari kemiskinan dan
berkekurangannya serta kemudian hidup damai sejahtera baik lahir maupun
batin.
3).
Jubah adalah lambang kebesaran atau pakaian resmi dan pada umumnya
pasti dipakai ketika sedang memimpin ibadat. Dengan kata lain hemat saya
salah satu tugas gembala umat adalah pribadi yang begitu
penuh devosi kepada ibadat khususnya Perayaan Ekaristi, sebagai puncak
ibadat Gereja Katolik. Perayaan Ekaristi merupakan kenangan akan wafat
dan kembangkitan Yesus, maka setiap kali merayakan atau berpartipasi
dalam Perayaan Ekaristi berarti sekaligus memperbaharui janji baptis,
yaitu 'hanya mengabdi Tuhan saja, serta menolak semua godaan setan'
4). "Hanya mengabdi Tuhan saja" kiranya identik dengan perintah untuk "mengikuti kehendak Tuhan". Maka
para gembala diharapkan sungguh taat dan setia pada kehendak Tuhan
serta menjadi teladan bagi yang digembalakannya. Kehendak Tuhan antara
lain menjadi nyata dalam kehendak baik umat atau sesama manusia, maka
selayaknya para gembala melayani umat atau sesama manusia agar mereka
hidup bahagia dan damai sejahtera. Untuk itu para gembala diharapkan
senantiasa siap sedia mendengarkan suka-duka umat dengan rendah hati,
serta kemudian menanggapinya dengan sepenuh hati.
"Tuhan
telah mendampingi aku dan menguatkan aku, supaya dengan perantaraanku
Injil diberitakan sepenuhnya dan semua orang bukan Yahudi
mendengarkannya" (2Tim 4:17)
Kutipan
di atas ini kiranya merupakan kesaksian iman Paulus sebagai rasul agung
yang berkeliling ke seluruh dunia, maka selayaknya menjadi permenungan
atau refleksi bagi segenap anggota lembaga hidup bakti khususnya dan
umat Allah pada umumnya, yang memiliki charisma untuk 'memberitakan Injil/kabar baik' kepada
manusia seluruh dunia atau warga masyarakat sekitarnya. Maka
perkenankan pertama-tama saya mengajak berrefleksi pada segenap anggota
lembaga hidup bakti atau religius dan kemudian segenap umat Allah, yang beriman kepada Yesus Kristus:
1). "Kerasulan
semua religius pertama-tama terletak dalam kesaksian hidup mereka yang
sudah dibaktikan, yang harus mereka pelihara dengan doa dan tobat" (KHK kan 673). Dibaktikan
berarti dipersembahkan atau disisihkan sepenuhnya kepada Tuhan,
sehingga para religius layak disebut sebagai sahabat-sahabat Tuhan. Cara
hidup dan cara bertindaknya secara pribadi maupun hidup bersama dalam
komunitas pada dirinya sendiri bersifat misioner, maka kami berharap
komunitas-komunitas hidup bakti/membiara hendaknya sungguh mempesona,
menarik dan memikat sehingga siapapun tergerak untuk mendekat dan
mendatangi. Dengan kata lain komunitas biara hendaknya bercirikhas
'welcome'/selamat datang keapda siapapun. Agar jati diri dan panggilan
ini terpelihara baik, maka hendaknya tidak melupakan hidup doa dan
tobat. Dalam hal berdoa kami percaya komunitas bruder dan suster rajin
dalam Ibadat Harian, maka kami berharap isi doa Ibadat Harian, mazmur
maupun bacaan-bacaan singkat, sungguh diresapkan dalam hati, dicecap
dalam-dalam. Bertobat berarti memperbaharui diri terus-menerus, maka
kami berharap segenap religius senantiasa terbuka untuk mendengarkan
aneka saran, kritik, nasihat, pujian dst.. dari siapapun sebagai wahana
untuk memperbaharui diri terus menerus.
2).
Kesaksian iman merupakan cara utama dan pertama dalam melaksanakan
tugas missioner, dan hemat kami hal ini lebih kena untuk direfleksikan
segenap rekan awam, yang setiap hari berpartisipasi dalam seluk-beluk
duniawi guna menghidupi kebutuhan hidup pribadi maupun keluarganya.
Anda, rekan-rekan awam yang demikian itu, menurut hemat saya merupakan
ujung tombak karya missioner, pewartaan kabar baik. Maka kami berharap,
entah dalam hidup di dalam keluarga, masyarakat maupun tempat kerja,
anda dapat hidup dan bekerja sebaik mungkin, antara lain pada masa kini
tidak melakukan korupsi sedikitpun, mengingat dan memperhatikan korupsi
masih marak di sana-sini. Kesaksian dalam pengelolaan harta benda atau
uang merupakan cara yang mendesak dan up to date untuk dihayati pada
masa kini. Semoga anda , rekan-rekan awam dapat menjadi pioneer dalam
pewartaan kabar baik bagi segenap warga masyarakat.
"Aku
hendak memuji Tuhan pada segala waktu, puji-pujian kepadaNya tetap
dalam mulutku. Karena Tuhan jiwaku bermegah, biarlah orang-orang yang
rendah hati mendengarkannya dan bersuka-cita' (Mzm 34: 2-3)
http://renunganimankatolik.blogspot.com/
Rabu, 29 Juni 2011
30 Juni - Kej 22:1-19; Mat 9:1-8)
"Mengapa kamu memikirkan hal jahat di dalam hatimu?"
(Kej 22:1-19; Mat 9:1-8)
" Sesudah itu naiklah Yesus ke dalam perahu lalu menyeberang. Kemudian sampailah Ia ke kota-Nya sendiri. Maka
dibawa oranglah kepada-Nya seorang lumpuh yang terbaring di tempat
tidurnya. Ketika Yesus melihat iman mereka, berkatalah Ia kepada orang
lumpuh itu: "Percayalah, hai anak-Ku, dosamu sudah diampuni." Maka berkatalah beberapa orang ahli Taurat dalam hatinya: "Ia menghujat Allah." Tetapi
Yesus mengetahui pikiran mereka, lalu berkata: "Mengapa kamu memikirkan
hal-hal yang jahat di dalam hatimu? Manakah lebih mudah, mengatakan:
Dosamu sudah diampuni, atau mengatakan: Bangunlah dan berjalanlah?
Tetapi supaya kamu tahu, bahwa di dunia ini Anak Manusia berkuasa
mengampuni dosa" --lalu berkatalah Ia kepada orang lumpuh
itu--:"Bangunlah, angkatlah tempat tidurmu dan pulanglah ke rumahmu!"
Dan orang itupun bangun lalu pulang. Maka orang banyak yang melihat hal
itu takut lalu memuliakan Allah yang telah memberikan kuasa sedemikian
itu kepada manusia." (Mat 9:1-8), demikian kutipan Warta Gembira hari ini
Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:
· Irihati
memang dapat berbuahkan pikiran jahat dalam hati, itulah yang terjadi
dalam diri ahli-ahli Taurat ketika Yesus menyembuhkan orang lumpuh
dengan mengampuni dosanya. Para ahli Taurat kiranya tak mampu melakukan
hal itu, maka dalam hati mereka menuduh Yesus 'menghujat Allah', karena
mereka juga tidak percaya bahwa Yesus adalah Allah yang menjadi manusia
seperti kita kecuali dalam hal dosa. Baiklah kami mengajak kita semua
untuk mawas diri apakah kita juga sering berpikiran jahat ketika ada
orang melakukan apa yang baik, sementara kita sendiri malas
melakukannya. Yesus datang ke dunia untuk mengampuni dosa manusia, maka
marilah kita, yang beriman kepadaNya, meneladanNya. Jika masing-masing
dari kita dengan jujur mawas diri kiranya akan mengetahui dan menyadari
bahwa kita adalah pendosa yang telah menerima kasih pengampunan Allah
secara melimpah ruah melalui sekian banyak orang yang telah
memperhatikan dan mengasihi kita, terutama orangtua kita masing-masing.
Ketika kita bersalah dibiarkan saja alias diampuni, maka selayaknya kita
kemudian memuliakan Allah sebagaimana dilakukan orang banyak setelah
melihat si lumpuh dapat berjalan karena kasih pengampunan Allah. Kasih
pengampunan memang dapat membuat mereka yang lumpuh dapat berjalan
normal. Marilah lumpuh ini tidak hanya kita fahami sacara phisik melulu,
tetapi juga secara social, emosional maupun spiritual, misalnya mereka yang lesu, loyo, frustrasi, takut, ragu-ragu dst.. Hemat
saya mereka menjadi demikian itu karena kurang kasih pengampunan, maka
marilah kita salurkan kasih pengampunan Allah kepada mereka itu.
Ingatlah dan sadari bahwa tanaman atau binatang dapat hidup, tumbuh dan
berkembang karena perawatan atau pemeliharaan yang dijiwai oleh kasih
pengampunan, maka selayaknya kita saling merawat dan memelihara dengan
kasih pengampunan juga agar kita semua dapat berjalan normal, artinya
fungsional dan optimal dalam lingkungan hidup sesuai dengan kemampuan,
keterampilan, kesempatan dan kemungkinan yang ada.
· "Jangan kau bunuh anak itu, dan jangan apa-apakan dia, sebab
telah Kuketahui sekarang, bahwa engkau takut akan Allah, dan engkau
tidak segan-segan menyerahkan anakmu yang tunggal kepadaKu" (Kej
22:12), demikian kata malaikat, utusan Allah, kepada Abraham, bapa umat
beriman Anak adalah anugerah Allah, maka selayaknya kemudian
dipersembahkan kembali kepada Allah, sesuai dengan kehendak Allah,
itulah iman Abraham. Marilah kita meneladan bapa Abraham. Mungkin kita
tidak akan menerima perintah Allah sebagaimana diperintahkan kepada
Abraham, maka baiklah saya mengajak anda semua, khususnya para bapak-ibu
atau orangtua, untuk 'mempersembahkan anak yang dianugerahkan Allah
kepada Allah'. Secara konkret hal itu antara lain berarti hendaknya
anak-anak dibina dan dididik agar tumbuh berkembang menjadi pribadi
baik, berbudi pekerti luhur, unggul dalam kehidupan moral. Akan menjadi
apakah anak nanti ketika dewasa terserah kepada kehendak Allah atau
panggilan Allah, dan sekiranya mereka terpanggil untuk menjadi imam,
bruder atau suster, hendaknya dengan rela dan tulus hati mendukungnya
sebagaimana dilakukan oleh Abraham. Sekiranya ia mau hidup berkeluarga,
dukunglah agar menjadi suami-isteri yang senantiasa berbakti kepada
Allah. Ingatlah dan hayati bahwa anak diciptakan atau diadakan dalam dan
oleh kasih serta kebebasan, maka hendaknya anak dididik dan didampingi
terus menerus dalam kasih dan kebebasan, maka kami berharap para
orangtua tidak dengan mudah memproyeksikan diri begitu saja kepada
anak-anaknya, artinya orangtua sebagai pedagang atau pengusaha, maka
anak-anak kelak juga harus menjadi pedagang atau pengusaha, dst.. Yang
penting dan utama anak-anak kita didik dan bina sebaik mungkin, akan
menjadi apakah mereka nanti terserah kepada kehendak Allah.
"Allah kita di sorga, Ia melakukan apa yang dikehendakiNya. Berhala-berhala mereka adalah perak dan emas, buatan tangan manusia" (Mzm 115:3-4)
sumber :http://renunganimankatolik.blogspot.com/
Langganan:
Postingan (Atom)