Kamis, 30 Desember 2010

FIRMAN HARIAN tgl 31-12-2010

Ia telah ada di dalam dunia dan dunia dijadikan olehNya"
(1Yoh 2:18-21; Yoh 1:1-18)

"Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. Ia pada mulanya bersama-sama dengan Allah. Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatu pun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan. Dalam Dia ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia. Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya. Datanglah seorang yang diutus Allah, namanya Yohanes; ia datang sebagai saksi untuk memberi kesaksian tentang terang itu, supaya oleh dia semua orang menjadi percaya. Ia bukan terang itu, tetapi ia harus memberi kesaksian tentang terang itu. Terang yang sesungguhnya, yang menerangi setiap orang, sedang datang ke dalam dunia. Ia telah ada di dalam dunia dan dunia dijadikan oleh-Nya, tetapi dunia tidak mengenal-Nya. Ia datang kepada milik kepunyaan-Nya, tetapi orang-orang kepunyaan-Nya itu tidak menerima-Nya. Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya;" (Yoh 1:1-12), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:
·   Hidup membumi atau mendunia itulah kesibukan kita sehari-hari atau panggilan hidup kita. Sang Penyelamat Dunia, Allah yang menjadi manusia, telah datang ke tengah-tengah kita, dengan mengambil rupa manusia seperti kita kecuali dalam hal dosa. Memang hanya orang yang sungguh beriman berani dan mampu mengimani bahwa bayi yang lahir di Betlekem itu adalah Penyelamat Dunia, datang untuk menyelamatkan seluruh dunia seisinya. Kita yang beriman kepadaNya diipanggil untuk meneladanNya, maka marilah dengan rendah hati kita melepaskan kebesaran-kebesaran kita untuk menjadi sama dengan sesama manusia, lebih-lebih dengan mereka yang miskin dan berkekurangan.Kita harus berpartisipasi dalam seluk-beluk atau hal ikhwal duniawi, maka hendaknya juga tidak malu untuk mengerjakan hal-hal sederhana seperti menyapu, mencuci piring, membersihkan lantai/WC, dst… Mengapa? Karena ketika kita terbiasa untuk mengerjakan hal-hal yang sederhana tersebut kiranya kita tak akan malu lagi untuk sungguh hidup membumi atau mendunia  dan kita tahu akan aneka macam kebutuhan pokok sehari-hari setiap manusia. Untuk itu memang kita juga harus hidup sederhana untuk memberi kesaksian akan iman kita kepada Sang Penyelamat Dunia yang lahir atau datang dalam kemiskinan atau kesederhanaan luar biasa. Sore/malam ini kita semua merayakan pergantian tahun, dari tahun 2010 ke 2011, maka kami harapkan merayakan secara sederhana saja, tidak berfoya-foya. Semoga dengan pergantian tahun kita juga berani berubah terus menerus agar semakin layak menjadi 'anak-anak Allah', orang-orang yang selalu melaksanakan kehendak Allah di dalam hidup sehari-hari.

·   "Anak-anakku, waktu ini adalah waktu yang terakhir, dan seperti yang telah kamu dengar, seorang antikristus akan datang, sekarang telah bangkit banyak antikristus. Itulah tandanya, bahwa waktu ini benar-benar adalah waktu yang terakhir" (1Yoh 2:18). "Antikristus" berarti orang yang tidak beriman kepada Yesus Kristus dan sering mengganggu atau mengacau hidup orang yang beriman kepada Yesus Kristus, antara lain orang atau kelompok yang fanatik, yang mempersulit pembangunan tempat ibadat. Aneh dan nyata: izin untuk mendirikan ruko, losmen atau hotel begitu mudah, padahal bangunan tersebut sering disalah-gunakan untuk makziat atau pelacuran, sedangkan membangun tempat ibadat dipersulit. Maka baiklah kita tidak terkejut jika untuk membangun tempat ibadat atau beribadat sering harus menghadapi aneka tantangan, mengingat dan  memeperhatikan kedatangan atau kelahiran Penyelamat Dunia pun menghadapi tantangan dari saudara-saudari- Nya di Betlekem; mereka menolak dan tidak bersedia memberi penginapan kepada Maria yang akan melahirkan Penyelamat Dunia. Kedatangan Penyelamat Dunia mengarah ke akhir hidupNya di puncak kayu salib artinya kelahiranNya telah mengalami penderitaan. Dengan kata lain hendaknya tidak marah atau menggerutu ketika kita menghadapi aneka tantangan dan masalah dalam rangka merayakan atau mewujudkan iman kita kepada Sang Penyelamat Dunia, Yesus Kristus. Memang untuk memperjuangkan dan menghayati kebenaran sejati tak akan terlepas dari aneka tantangan, masalah dan hambatan, namun demikian percayalah bahwa kebenaran pasti akan menang atas dusta dan kebohongan, kesederhanaan akan menang atas keserakahan. Semoga aneka tantangan, masalah dan hambatan menjadi wahana atau jalan bagi kita semua untuk semakin memperdalam dan meneguhkan iman kita.

"Biarlah langit bersukacita dan bumi bersorak-sorak, biarlah gemuruh laut serta isinya, biarlah beria-ria padang dan segala yang di atasnya, maka segala pohon di hutan bersorak-sorai di hadapan TUHAN, sebab Ia datang, sebab Ia datang untuk menghakimi bumi. Ia akan menghakimi dunia dengan keadilan, dan bangsa-bangsa dengan kesetiaan-Nya " (Mzm 96:11-13)
Jakarta, 31 Desember 2010

Rabu, 29 Desember 2010

FIRMAN HARIAN tgl 30-12-2010

"Anak itu bertambah besar dan menjadi kuat"
(1Yoh 2:12-17; Luk 2:36-40)

"Lagipula di situ ada Hana, seorang nabi perempuan, anak Fanuel dari suku Asyer. Ia sudah sangat lanjut umurnya. Sesudah kawin ia hidup tujuh tahun lamanya bersama suaminya, dan sekarang ia janda dan berumur delapan puluh empat tahun. Ia tidak pernah meninggalkan Bait Allah dan siang malam beribadah dengan berpuasa dan berdoa. Dan pada ketika itu juga datanglah ia ke situ dan mengucap syukur kepada Allah dan berbicara tentang Anak itu kepada semua orang yang menantikan kelepasan untuk Yerusalem. Dan setelah selesai semua yang harus dilakukan menurut hukum Tuhan, kembalilah mereka ke kota kediamannya, yaitu kota Nazaret di Galilea. Anak itu bertambah besar dan menjadi kuat, penuh hikmat, dan kasih karunia Allah ada pada-Nya" (Luk 2:36-40), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:
·   Pendidikan anak hemat saya merupakan sesuatu yang penting dan utama, lebih daripada kegiatan atau usaha-usaha lainnya. Marilah kita didik anak-anak kita agar dapat tumbuh berkembang seperti Yesus, yaitu "bertambah besar dan menjadi kuat, penuh hikmat dan kasih karunia Allah ada padaNya". Pertama-tama hendaknya sejak dalam kandungan sampai usia balita anak diberi gizi yang memadai, karena masa-masa tersebut sangat menentukan masa depan pertumbuhan dan perkembangan pribadi anak. Hendaknya anak disusui oleh ibunya secara memadai, dan menurut ahli gizi konon alangkah baiknya jika anak dapat menerima ASI paling tidak selama satu tahun. Untuk itu perlu diperhatikan gizi ibu atau calon ibu agar dapat menghasilkan ASI yang memadai bagi anaknya. Dalam proses pendidikan atau pendampingan selain agar anak sehat wal'afiat dan segar bugar secara phisik, hendaknya diusahakan agar anak semakin penuh hikmat dan kasih karunia Allah ada padanya, dengan kata lain agar anak semakin berbudi pekerti luhur, semakin dikasihi oleh Allah dan sesamanya. Dengan kata lain hendaknya dalam mendidik atau mendampingi anak-anak dengan tujuan agar anak-anak tumbuh berkembang menjadi pribadi yang baik atau cerdas secara spiritual daripada pandai atau cerdas secara intelektual. Teladan konkret dari orangtua atau bapak-ibu dalam hidup dan bertindak baik dalam hidup sehari-hari mutlak dibutuhkan, karena keteladanan merupakan cara pertama dan utama dalam pendidikan atau pembinaan. Kami berharap juga kelak ada anak-anak yang tergerak atau terpanggil untuk menjadi imam, bruder atau suster (kalau beragama katolik) atau menjadi pribadi yang sosial, senantiasa peka terhadap kebutuhan orang lain, terutama mereka yang miskin dan berkekurangan.

·   "Semua yang ada di dalam dunia, yaitu keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup, bukanlah berasal dari Bapa, melainkan dari dunia. Dan dunia ini sedang lenyap dengan keinginannya, tetapi orang yang melakukan kehendak Allah tetap hidup selama-lamanya." (1Yoh 2:16-17). Apa yang dikatakan oleh Yohanes ini tidak berarti kita tidak boleh mendunia, melainkan hendaknya jangan bersikap mental materialistis selama hidup di dunia ini. Hendaknya semakin kaya akan harta benda atau uang juga semakin beriman, semakin dikasihi oleh Tuhan dan sesamanya. Kehendak Tuhan perihal harta benda atau uang adalah sebagai sarana untuk memuji, memuliakan, menghormati dan mengabdi Tuhan dalam hidup sehari-hari melalui sesama manusia, maka jika harta benda atau uang mengganggu tujuan tersebut hendaknya dibuang atau dimusnahkan. Yohanes juga mengingatkan kita perihal indera penglihatan atau mata, tentu saja bagi yang tidak buta. Cara hidup dan cara bertindak kita pada umumnya memang dimulai dengan penglihatan atau apa yang kita lihat. Melihat -> merasakan -> berpikir -> bersikap -> bertindak inilah kurang lebih kronologis cara bertindak. Dari melihat sampai bertindak  bagi orang yang jelas kepribadian atau jati dirinya hanya butuh waktu hitungan detik, artinya begitu melihat langsung bertindak. Sedangkan bagi orang yang tidak jelas kepribadiannya, tidak putih dan tidak hitam alias abu-abu, pada umumnya dari melihat sampai bertindak butuh waktu lama, karena harus merasa-rasakan dan berpikir. Kehendak Tuhan bagi kita semua adalah begitu melihat langsung bertindak, tentu saja tindakan yang menyelamatkan atau membahagiakan terutama keselamatan jiwa manusia. Kita semua mendambakan untuk hidup selamanya mulia di sorga bersama Tuhan setelah dipanggil Tuhan atau meninggal dunia, maka baiklah kita senantiasa setiap hari bersama dan bersatu dengan Tuhan alias berusaha untuk hidup baik, suci, tak bernoda atau tercela.

"Kepada TUHAN, hai suku-suku bangsa, kepada TUHAN sajalah kemuliaan dan kekuatan! Berilah kepada TUHAN kemuliaan nama-Nya, bawalah persembahan dan masuklah ke pelataran-Nya! Sujudlah menyembah kepada TUHAN dengan berhiaskan kekudusan, gemetarlah di hadapan-Nya, hai segenap bumi!"
 (Mzm 96:7-9)
Jakarta, 30 Desember 2010    
http://renunganimankatolik.blogspot.com/

Senin, 20 Desember 2010

FIRMAN HARIAN tgl 21-12-2010

"Diberkatilah engkau di antara semua perempuan ".
(Kid 2:8-14; Luk 1:39-45)

"Beberapa waktu kemudian berangkatlah Maria dan langsung berjalan ke pegunungan menuju sebuah kota di Yehuda. Di situ ia masuk ke rumah Zakharia dan memberi salam kepada Elisabet. Dan ketika Elisabet mendengar salam Maria, melonjaklah anak yang di dalam rahimnya dan Elisabet pun penuh dengan Roh Kudus, lalu berseru dengan suara nyaring: "Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu. Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku? Sebab sesungguhnya, ketika salammu sampai kepada telingaku, anak yang di dalam rahimku melonjak kegirangan. Dan berbahagialah ia, yang telah percaya, sebab apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan, akan terlaksana." (Luk 1:39-45), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:
·   Pada hari ini kepada kita ditampilkan tokoh Elisabeth, yang pada usia tuanya mengandung anaknya sebagai berkat Tuhan yang luar biasa. Ketika Maria mendengar bahwa Elisabeth mengandung ia pun segera mengunjunginya untuk ikut bergembira, namun ketika Maria memberi salam kepada Elisabeth, ternyata Elisabeth pun tahu bahwa Maria juga telah mengandung Sang Penyelamat Dunia karena Roh Kudus. Elisabeth memberi salam pujian kepada Maria "Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu". Maka perkenankan pada hari ini kami mengajak rekan-rekan perempuan, dan mungkin secara khusus kepada mereka yang sudah bersuami namun sampai kini belum dianugerahi anak. Entah telah dianugerahi anak atau belum kami harapkan rekan-rekan perempuan dapat menjadi penyalur berkat bagi orang lain, dan tentu saja jika bersuami secara khusus bagi suami dan anak-anaknya. Ingat bahwa anda sebagai perempuan memiliki rahim dan didalam rahim selama kurang lebih sembilan bulan tumbuh berkembang 'buah kasih' atau 'berkat Tuhan'. Bukankah anak pertama yang anda kandung dan lahirkan sungguh dihayati sebagai berkat atau rahmat Tuhan dengan penuh syukur dan terima kasih? Kelahiran anak pertama sungguh menjadi kegembiraan besar bagi anda dan suami anda serta saudara-saudari dan kenalan anda? Hendaknya pengalaman yang menggembirakan tersebut terus dikenang dan diperdalam, artinya dengan rendah hati dan bantuan rahmat Tuhan senantiasa berusaha hidup dengan penuh syukur dan terima kasih, sehingga kehadiran anda dimanapun dan kapanpun dapat menjadi berkat Tuhan bagi sesama.. Kami juga berharap rekan-rekan perempuan untuk saling memuji satu sama lain di dalam hidup sehari-hari.

·   "Dengarlah! Kekasihku! Lihatlah, ia datang, melompat-lompat di atas gunung-gunung, meloncat-loncat di atas bukit-bukit. Kekasihku serupa kijang, atau anak rusa. Lihatlah, ia berdiri di balik dinding kita, sambil menengok-nengok melalui tingkap-tingkap dan melihat dari kisi-kisi" (Kid 2:8-9) . Kutipan dari Kidung Agung ini kiranya cukup baik untuk menjadi permenungan bagi siapapun yang hidup saling mengasihi dan tentu saja secara khusus bagi suami-isteri yang telah saling berjanji untuk saling mengasihi baik dalam untung maupun malang, sehat maupun sakit sampai mati. "Kekasihku", begitulah kiranya yang ada dalam hati anda masing-masing, para suami-isteri, saling memperlakukannya. Antar kekasih sejati pada umumnya saling terbuka satu sama lain, dan tiada sedikitpun yang disembunyikan, sebagaimana terjadi ketika sedang memadu kasih dalam hubungan seksual. Dalam keterbukaan satu sama lain saling menyambut dan memperlakukan dengan penuh mesra dan hangat, sehingga relasi berdua sungguh menggembirakan dan menggairahkan. Kami berharap pengalaman yang demikian dapat disebarluaskan dalam kehidupan bersama dimanapun dan kapanpun, tentu saja tidak secara phisik, namun lebih-lebih dan terutama secara spiritual rational. Ingatlah dan sadari serta kemudian hayati bahwa masing-masing dari kita adalah 'yang terkasih', buah kasih, maka baiklah kita saling memperlakukan satu sama lain sebagai yang terkasih bertemu dengan yang terkasih. Memang untuk itu pertama-tama kita masing-masing harus menyadari dan menghayati sebagai yang terkasih, yang telah menerima kasih karunia Allah secara melimpah ruah melalui siapapun yang telah berbuat baik kepada kita, menyapa, menyentuh dan memperhatikan kita. Berani menghayati diri sebagai yang terkasih berarti kemudian hidup dan bertindak dengan penuh syukur dan terima kasih kepada sesamanya.

"Bersyukurlah kepada TUHAN dengan kecapi, bermazmurlah bagi-Nya dengan gambus sepuluh tali! Nyanyikanlah bagi-Nya nyanyian baru; petiklah kecapi baik-baik dengan sorak-sorai!... tetapi rencana TUHAN tetap selama-lamanya, rancangan hati-Nya turun-temurun. Berbahagialah bangsa, yang Allahnya ialah TUHAN, suku bangsa yang dipilih-Nya menjadi milik-Nya sendiri" (Mzm 33:2-3.11-12)

Jakarta, 21 Desember 2010
http://renunganimankatolik.blogspot.com/

Minggu, 19 Desember 2010

firman harian 20 des 2010

"Jadilah padaku menurut perkataanmu itu."
(Yes 7:10-14; Luk 1:26-38)

"Dalam bulan yang keenam Allah menyuruh malaikat Gabriel pergi ke sebuah kota di Galilea bernama Nazaret, kepada seorang perawan yang bertunangan dengan seorang bernama Yusuf dari keluarga Daud; nama perawan itu Maria. Ketika malaikat itu masuk ke rumah Maria, ia berkata: "Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau." Maria terkejut mendengar perkataan itu, lalu bertanya di dalam hatinya, apakah arti salam itu. Kata malaikat itu kepadanya: "Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh kasih karunia di hadapan Allah. Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus. Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi. Dan Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapa leluhur-Nya, dan Ia akan menjadi raja atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan Kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan." Kata Maria kepada malaikat itu: "Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?" Jawab malaikat itu kepadanya: "Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah. Dan sesungguhnya, Elisabet, sanakmu itu, ia pun sedang mengandung seorang anak laki-laki pada hari tuanya dan inilah bulan yang keenam bagi dia, yang disebut mandul itu. Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil." Kata Maria: "Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu." Lalu malaikat itu meninggalkan dia" (Luk 1:26-38), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:
·   Dalam Warta Gembira hari ini ditampilkan tokoh Maria, seorang perawan yang suci dari Nazaret. Maria terpilih sebagai Bunda Penyelamat Dunia, yang mengandung dan melahirkan Penyelamat Dunia, karena Roh Kudus bukan karena hubungan seksual dengan laki-laki. Anda para gadis atau perawan kiranya dapat membayangkan betapa berat tanggungannya jika tiba-tiba hamil karena pergaulan seks bebas: malu dan ada kemungkinan diusir dari rumah dst…atau ditinggalkan oleh pacar yang menghamili. Secara manusiawi kiranya Maria mengalami hal itu, namun karena ia perawan suci ketika mengetahui bahwa kehamilannya karena Roh Kudus, maka dengan rendah hati ia menanggapi panggilan Tuhan lewat malaikatNya "Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan, jadilah padaku menurut perkataanmu itu". "Fiat voluntas tua", begitulah motto yang sering digunakan secara pribadi atau organisatoris dengan dambaan untuk meneladan Maria, teladan umat beriman. Kita semua juga dipanggil untuk meneladan Maria, yang dengan rendah hati siap sedia untuk melaksanakan kehendak Tuhan dalam situasi dan kondisi apapun, dimanapun dan kapanpun. Dengan kata lain jika kita berkehendak baik hendaknya segera diwujudkan kehendak tersebut, tanpa takut dan gentar terhadap aneka tantangan atau hambatan serta masalah yang menghadang.

·    "Baiklah dengarkan, hai keluarga Daud! Belum cukupkah kamu melelahkan orang, sehingga kamu melelahkan Allahku juga? Sebab itu Tuhan sendirilah yang akan memberikan kepadamu suatu pertanda: Sesungguhnya, seorang perempuan muda mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamakan Dia Imanuel." (Yes 7:13-14), demikian kata Yesaya kepada bangsanya, saudara-saudarinya yang menantikan kedatangan Penyelamat Dunia, Mesias. Bahwa Maria terpilih sebagai Bunda Penyelamat Dunia ternyata sudah lama diramalkan oleh para nabi, antara lain nabi Yesaya. Tanda kasih atau rahmat Tuhan atau mujizat itulah yang hendaknya kita renungkan atau refleksikan. Tuhan hidup dan berkarya terus menerus dalam dan melalui ciptaan-ciptaanNya, antara lain menganugerahi pertumbuhan dan perkembangan. Maka baiklah kita hayati dan imani bahwa semua pertumbuhan dan perkembangan yang terjadi atau kita alami adalah anugerah atau karya Tuhan, dengan kata lain ada tanda kehadiran dan karya Tuhan yang begitu melimpah dalam kehidupan kita sehari-hari. "Imanuel" , yang berarti Tuhan beserta kita, itulah yang kita nanti-nantikan. Tuhan telah dan terus akan menyertai perjalanan hidup, panggilan dan tugas pengutusan kita masing-masing antara lain melalui aneka macam perhatian, sapaan, sentuhan dan perlakuan orang lain kepada kita. Segala sesuatu yang dibuat orang lain pada kita adalah perwujudan penyertaan  Tuhan pada kita yang lemah dan rapuh ini. Secara khusus kami berharap kepada rekan-rekan perempuan yang sedang atau pernah mengandung 'buah kasih' dalam rahimnya, kami ajak untuk mengenangkan kembali betapa luhur, mulia dan indahnya karya kasih Tuhan melalui pertumbuhan dan perkembangan buah kasih, embriyo, dalam rahim anda. Maka kami berharap kepada anda semua yang pernah mengandung dan melahirkan anaknya untuk dapat menjadi saksi kasih dan penyertaan Tuhan dalam hidup sehari-hari.

"TUHANlah yang empunya bumi serta segala isinya, dan dunia serta yang diam di dalamnya. Sebab Dialah yang mendasarkannya di atas lautan dan menegakkannya di atas sungai-sungai. "Siapakah yang boleh naik ke atas gunung TUHAN? Siapakah yang boleh berdiri di tempat-Nya yang kudus?" "Orang yang bersih tangannya dan murni hatinya, yang tidak menyerahkan dirinya kepada penipuan, dan yang tidak bersumpah palsu. Dialah yang akan menerima berkat dari TUHAN dan keadilan dari Allah yang menyelamatkan dia."
(Mzm 24:1-5)
 .    
Jakarta, 20 Desember 2010
http://renunganimankatolik.blogspot.com/

Sabtu, 18 Desember 2010

Minggu Adven IV

"Ia mengambil Maria sebagai isterinya tetapi tidak bersetubuh dengan dia sampai ia melahirkan anaknya"
Mg Adven IV: Yes  7:10-14; Rm 1:1-7; Mat 1:18-24

Orangtua, pemimpin atau atasan sering dengan mudah menjanjikan sesuatu kepada anak-anaknya, anggota-anggotanya atau bawahan-bawahannya, tetapi sering janji tersebut tinggal janji artinya tidak ditepati atau dilaksanakan. Sebagai contoh konkret presiden RI menjanjikan untuk memberantas korupsi serta siap berada di garis depan dalam memberantas korupsi, namun hanya koruptor kelas teri yang dijadikan sasaran, sementara itu koruptor kelas kakap dibiarkan berkeliaran. Maklum koruptor kelas kakap pada umumnya melibatkan para pejabat, sehingga dengan dan melalui berbagai cara mereka dilindungi. Memang tidak mudah memberantas koruptor kelas kakap, namun jika koruptor kelas kakap dapat dibasmi kiranya damai sejahtera akan terjadi di bumi ini. Dalam Warta Gembira hari ini dikisahkan pemenuhan janji Allah untuk mengutus Penyelamat Dunia, yaitu memilih Yusuf, anak Daud atau keturunan Daud, untuk "mengambil Maria sebagai isterinya, tetapi tidak bersetubuh dengan dia sampai ia melahirkan anaknya laki-laki dan Yusuf menamakan dia Yesus". Tokoh Yusuf ditampilkan dalam Warta Gembira hari ini, maka marilah kita renungkan atau refleksikan tokoh Yusuf ini.

"Yusuf suaminya, seorang yang tulus hati dan tidak mau mencemarkan nama isterinya di muka umum" (Mat 1:19)

"Tulus hati dan tidak mau mencemarkan nama(orang lain) di muka umum"  inilah yang sebaiknya kita renungkan atau refleksikan. Menghayati dan menyebarkan hal ini kiranya sungguh mendesak dan up to date masa kini mengingat kebohongan dan pencemaran nama baik masih marak di sana-sini di dalam kehidupan bersama. Memiliki ketulusan hati berarti suci, bersih dan tiada noda atau dosa sedikitpun, maka rasanya hal itu sungguh berat bagi kita semua dan mungkin dapat dihitung dengan jari siapa yang sungguh tulus hati. Namun demikian marilah kita saling membantu dan mengingatkan untuk hidup dan bertindak dengan tulus hati dimanapun dan kapanpun. Tulus hati juga berarti jujur, yaitu "sikap dan perilaku yang tidak suka berbohong dan berbuat curang, berkata-kata apa adanya dan berani mengakui kesalahan, serta rela berkorban untuk kebenaran" (Prof Dr Edi Sedyawati/edit: Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka – Jakarta 1997, hal 17).

Salah satu bentuk konkret ketulusan hati adalah tidak mau mencemarkan nama baik orang lain di muka umum kapan saja dan dimana saja. Banyak di antara kita suka ngrasani atau ngrumpi; pada umumnya berisi menjelek-jelekan orang lain atau membicarakan kekekurangan dan kelemahan orang lain, dan dengan demikian kekurangan atau kelemahan orang yang bersangkutan diperbesar. Membicarakan kekurangan atau kelemahan orang lain untuk bersendau-gurau atau pemuas nafsu pribadi hemat saya melanggar hak asasi manusia, melanggar cintakasih. Siapa yang suka ngrumpi atau ngrasani, laki-laki atau perempuan? Kaum laki-laki pada umumnya lebih jarang ngrumpi atau ngrasani, namun ketika ngrasani begitu keras sehingga banyak orang mendengar, sedangkan rekan perempuan pada umum ngrasani dengan pelan, telaten serta sering dengan mudah ngrumpi atau ngrasani, dengan kata lain laki-laki dan perempuan sama saja.

Ketulusan hati Yusuf juga dihayati dengan tidak bersetubuh dengan Maria, karena Maria mengandung dari Roh Kudus. Dengan rendah hati kami mengingatkan dan mengajak rekan-rekan laki-laki, entah yang sudah berkeluarga atau belum/tidak berkeluarga: hendaknya tidak dengan mudah bersetubuh dengan perempuan lain yang bukan isterinya atau pasangan hidupnya. Maklum laki-laki menyeleweng atau selingkuh satu atau dua kali belum ketahuan, tetapi kalau berkali-kali akan ketahuan juga, sedangkan rekan-rekan perempuan lebih-lebih yang belum berkeluarga alias masih gadis/perawan ketika berselingkuh sekali saja langsung dapat ketahuan, karena ada kemungkinan yang bersangkutan hamil atau paling tidak secara phisik telah jebol selaput daranya. Marilah kita saling menjaga ketulusan hati kita dalam hal seksual.

"Dengan perantaraan-Nya kami menerima kasih karunia dan jabatan rasul untuk menuntun semua bangsa, supaya mereka percaya dan taat kepada nama-Nya. Kamu juga termasuk di antara mereka, kamu yang telah dipanggil menjadi milik Kristus." (Rm 1:5-6)
Sebagai orang yang beriman kepada Yesus Kristus kita adalah milik Yesus Kristus, maka mau tak mau kita harus hidup dan bertindak sesuai dengan kehendak atau perintahNya atau menghayati sabda-sabdaNya sebagaimana disharingkan oleh para penulis Kitab Suci. Kita juga dipanggil sebagai rasul atau utusan, yaitu 'menuntun semua bangsa'  untuk berbakti sepenuhnya kepada Tuhan. Sang Penyelamat Dunia yang kita nantikan adalah Penyelamat semua bangsa, membawa damai sejahtera bagi semua orang yang berkehendak baik, maka marilah kita mempersiapkan diri dengan mengusahakan diri sedemikian rupa sehingga kita layak menjadi 'milik Yesus Kristus'.

"Baik hidup atau mati, kita adalah milik Tuhan." (Rm 14:8), demikian kesaksian Paulus kepada umat di Roma, kepada kita semua umat beriman. Ingat dan hayati bahwa kita semua adalah ciptaan Tuhan, dapat hidup, tumbuh dan berkembang sebagaimana adanya saat ini karena kasih Tuhan. Masing-masing dari kita diciptakan oleh Tuhan bekerjasama dengan orangtua kita masing-masing yang saling mengasihi dan kiranya kasih mereka pun dihayati sebagai anugerah Tuhan juga. Karena hidup adalah milik Tuhan yang dianugerahkan kepada kita, maka segala sesuatu yang kita miliki, kuasai dan nikmati sampai saat ini adalah anugerah Tuhan. Dengan kata lain sebagai 'milik Tuhan/Yesus Kristus' kita dipanggil hidup dan bertindak dengan penuh syukur dan terima kasih serta rendah hati.

Kerendahan hati juga dihayati oleh Sang Penyelamat Dunia yang kita nantikan kedatanganNya, karena  "Kristus Yesus,yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib" (Fil 2:5-8). Apa yang kita miliki atau kuasai sampai saat ini marilah kita 'kosongkan', artinya kita fungsikan atau gunakan sesuai dengan kehendak Tuhan, antara lain secara konkret kita dipanggil untuk menjadi pribadi yang sosial, tidak egois. Sosial berasal dari kata bahasa Latin 'socius' berarti teman atau sahabat, maka semakin memiliki aneka macam anugerah Tuhan diharapkan semakin banyak sahabat atau teman. Semakin kaya, semakin pandai/cerdas, semakin berkedudukan, semakin berpengalaman, semakin tua/tambah usia, hendaknya semakin rendah hati, bersyukur dan berterima kasih. Ingat pepatah "tua-tua keladi atau bulir padi semakin tua/berisi semakin menunduk'.

" TUHANlah yang empunya bumi serta segala isinya, dan dunia serta yang diam di dalamnya. Sebab Dialah yang mendasarkannya di atas lautan dan menegakkannya di atas sungai-sungai. "Siapakah yang boleh naik ke atas gunung TUHAN? Siapakah yang boleh berdiri di tempat-Nya yang kudus?" "Orang yang bersih tangannya dan murni hatinya, yang tidak menyerahkan dirinya kepada penipuan, dan yang tidak bersumpah palsu. Dialah yang akan menerima berkat dari TUHAN dan keadilan dari Allah yang menyelamatkan dia." (Mzm 24:1-5)

Sabtu, 11 Desember 2010

Mg Adven III

"Engkaukah yang akan datang itu atau haruskah kami menantikan orang lain?"
Mg Adven III : Yes 35:1-6a.10; Yak 5:7-10; Mat 11:2-11
Kedatangan seorang tokoh besar dalam hidup bermasyarakat, berbangsa, bernegara maupun beragama pada umumnya sungguh ditunggu-tunggu oleh banyak orang, seperti kedatangan presiden Amerika Serikat, Barack Obama, bulan lalu yang sempat tertunda-tunda akhirnya datang, meskipun tidak lebih dari 24 jam atau satu hari. Apa yang akan dikatakan dan dilakukan oleh Barack Obama jika datang di Indonesia sangat ditunggu-tunggu, apalagi oleh rekannya di masa kecil maupun mantan gurunya. Apa yang dikatakan dan dilakukan oleh seorang tokoh besar pada umumnya mempengaruhi cara hidup dan cara bertindak pada pendengarnya. Dalam Warta Gembira hari ini dikisahkan perihal kedatangan Penyelamat Dunia, antara lain Yohanes Pembaptis, yang berada di penjara mengutus murid-muridnya untuk menanyakan apakah orang yang telah banyak berbuat baik bagi banyak orang, sehingga cukup banyak orang terpesona dan tertarik, adalah Penyelamat Dunia yang dinantikan. "Engkaukah yang akan datang itu atau haruskah kami menantikan orang lain?" (Mat 11: 3). Menanggapi pertanyaan ini Yesus pun menjawab dengan ajakan mereka melihat dan mendengarkan apa yang Ia kerjakan dan katakan, maka baiklah saya mengajak anda sekalian untuk melihat dan mendengarkan apa yang akan dikerjakan dan dikatakan oleh Penyelamat Dunia, yang kita nantikan kedatanganNya. Marilah kita renungkan atau refleksikan.

"Orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta menjadi tahir, orang tuli mendengar, orang mati dibangkitkan dan kepada orang miskin diberitakan kabar baik."
(Mat 11:5)
   
Sang Penyelamat Dunia, yang kita tunggu-tunggu kedatanganNya antara lain akan membuka mata orang buta, membuat orang lumpuh berjalan, menyembuhkan orang sakit, membuka telinga orang agar dapat mendengarkan dengan baik, membangkitkan yang mati dan memberikan apa yang baik bagi mereka yang miskin dan berkekurangan. Alangkah baik dan indahnya jika yang menantikan kedatanganNya pada saat ini juga melakukan apa yang akan dilakukan oleh Penyelamat Dunia, maka marilah kita mawas diri sejauh mana kita telah melakukannya dan jika telah melakukannya marilah kita perdalam atau tingkatkan:
·  Membuka mata orang buta. Apa yang dimaksudkan dengan 'buta' disini kiranya tidak hanya secara phisik, namun lebih-lebih atau terutama secara spiritual. Buta secara spiritual yang kami maksudkan adalah orang yang bersikap mental materialistis atau duniawi, yang gila akan harta benda/uang, jabatan/kedudukan/pangkat dan kehormatan duniawi. Mereka hanya berorientasi pada apa yang kelihatan dan tidak percaya kepada apa yang tak dapat dilihat dengan mata phisik ini. Baiklah mereka yang bersikap mental materialisitis atau duniawi ini kita ingatkan dan ajak untuk mengimani atau menghayati kehadiran dan karya Tuhan dalam hidup sehari-hari dalam semua ciptaanNya di bumi ini, terutama dalam diri manusia yang diciptakan sesuai dengan gambar atau citraNya. Kita ingatkan ajak untuk menghayati bahwa hidup serta segala sesuatu yang kita miliki, kuasai atau nikmati sampai saat ini adalah anugerah Tuhan, dan tanpa Tuhan kita tidak dapat hidup, tumbuh-berkembang sebagaimana adanya saat ini.       
·  Membuat orang lumpuh berjalan. Marilah 'lumpuh' disini juga kita fahami secara spiritual, yang antara lain berarti orang yang 'mandheg/berhenti di tempat' alias bersikap mental 'quitter', tidak sampai 'camper' apalagi 'climber'. Kita ajak dan dorong mereka untuk berusaha bersikap mental 'ongoing education/formation', belajar sepanjang hayat. Untuk itu berarti orang harus memiliki sikap terbuka terhadap aneka kesempatan dan kemungkinan untuk tumbuh berkembang terus menerus sampai mati.   
·  Menyembuhkan orang sakit. Marilah kita fahami 'sakit' disini lebih-lebih sakit hati atau sakit jiwa. Ciri-ciri orang sakit hati pada umumnya memiliki banyak musuh, mudah ngambek, dan tertutup; ia tidak menyadari kelemahan dan kerapuhan dirinya, mudah tersinggung dst..Sedangkan orang sakit jiwa pada umumnya  mudah marah-marah dan pada suatu saat ketika tidak kuat marah lagi menjadi sinthing alias gila. Menyembuhkan orang sakit hati dan sakit jiwa antara lain pertama-tama kita ajak untuk menghayati diri sebagai yang lemah, rapuh dan berdosa, dan kemudian mohon kasih pengampunan Tuhan, sehingga ia menjadi orang beriman sejati, yaitu menyadari diri sebagai pendosa yang dipanggil dan diutus oleh Tuhan untuk mewartakan kabar baik.   
·  Membuka telinga orang tuli. Tuli secara spiritual berarti menutup diri; yang bersangkutan tidak mau tahu atas segala sesuatu yang terjadi di lingkungan hidupnya, dengan kata lain yang bersangkutan kurang lebih bersifat egois, yang penting dan utama saya selamat, sedangkan orang lain terserah, begitulah sikapnya. Orang yang bersikap mental demikian kita ingatkan dan ajak untuk menyadari dan menghayati bahwa dirinya dapat hidup dan berkembang sebagaimana adanya saat ini tak terlepas dari kebaikan dan kemurahan hati Tuhan melalui orang-orang yang telah berbuat baik kepadanya. Kiranya yang bersangkutan tak mungkin menghitung berapa orang yang telah berbuat baik kepadanya. Maka kita ajak orang yang bersangkutan untuk terbuka dan dengan rela serta tulus hati berkorban bagi keselamatan atau kebahagiaan sesamanya.       
·  Membangkitkan yang loyo, frustrasi atau lesu Harapan itulah yang kita tawarkan kepada mereka yang loyo, frustrasi atau lesu, sesuai dengan semangat adven. Kita ingatkan mereka , sekiranya kurang diperhatikan oleh orang lain yang kemudian membuat dirinya frustrasi, loyo atau lesu, bahwa Tuhan tak pernah melupakan ciptaanNya, terutama manusia, yang diciptakan sesuai dengan gambar atau citraNya.  
·  Membawa kabar baik bagi mereka yang miskin dan berkekurangan. Secara phisik apa yang baik bagi mereka yang miskin dan berkekurangan adalah harta benda atau uang, maka baiklah kepada mereka kita sumbangkan sebagian harta benda atau uang kita. Namun yang cukup sulit adalah membawa kabar baik bagi mereka yang miskin secara spiritual. Orang seperti Gayus, yang memanipulasi pajak, adalah contoh orang yang miskin secara  spiritual. Pendekatan secara phisik atau tatap muka mungkin sulit untuk menyadarkan atau menginsyafkan orang seperti Gayus, maka baiklah kita dekati juga secara spiritual, artinya kita doakan. Marilah di masa adven ini kita tingkatkan hidup doa kita.
Melaksanakan hal-hal tersebut di atas kiranya butuh kesabaran, maka baiklah kita renungkan sapaan atau peringatan Yakobus di bawah ini.

"Karena itu, saudara-saudara, bersabarlah sampai kepada kedatangan Tuhan! Sesungguhnya petani menantikan hasil yang berharga dari tanahnya dan ia sabar sampai telah turun hujan musim gugur dan hujan musim semi. Kamu juga harus bersabar dan harus meneguhkan hatimu, karena kedatangan Tuhan sudah dekat! (Yak 5:7-8)
"Sabar adalah sikap dan perilaku yang menunjukkan kemampuan dalam mengendalikan gejolak diri dan tetap bertahan seperti keadaan semula dalam menghadapi berbagai rangsangan atau masalah" (Prof Dr Edi Sedyawati/edit: Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka – Jakarta 1997, hal 24). Kesabaran rasanya sungguh mendesak dan up to date untuk kita hayati dan sebarluaskan, mengingat dan memperhatikan banyak orang tidak sabar, misalnya di jalanan, muda-mudi yang terjebak pergaualan seks bebas, dst.. Hendaknya kesabaran dibiasakan pada anak-anak sedini mungkin di dalam keluarga dengan teladan konkret dari para orangtua/bapak-ibu.

Berbahagialah orang yang menegakkan keadilan untuk orang-orang yang diperas, yang memberi roti kepada orang-orang yang lapar. TUHAN membebaskan orang-orang yang terkurung,TUHAN membuka mata orang-orang buta, TUHAN menegakkan orang yang tertunduk, TUHAN mengasihi orang-orang benar. TUHAN menjaga orang-orang asing, anak yatim dan janda ditegakkan-Nya kembali, tetapi jalan orang fasik dibengkokkan-Nya. TUHAN itu Raja untuk selama-lamanya, Allahmu, ya Sion, turun-temurun! Haleluya" (Mzm 146:7-10)

Jakarta, 12 Desember 2010
http://renunganimankatolik.blogspot.com/

FIRMAN HARIAN tgl 11-12-2010

"Ia berbicara tentang Yohanes Pembaptis."
(Sir 48:1-4.9-11; Mat 17:10-13)

"Lalu murid-murid-Nya bertanya kepada-Nya: "Kalau demikian mengapa ahli-ahli Taurat berkata bahwa Elia harus datang dahulu?" Jawab Yesus: "Memang Elia akan datang dan memulihkan segala sesuatu dan Aku berkata kepadamu: Elia sudah datang, tetapi orang tidak mengenal dia, dan memperlakukannya menurut kehendak mereka. Demikian juga Anak Manusia akan menderita oleh mereka." Pada waktu itu mengertilah murid-murid Yesus bahwa Ia berbicara tentang Yohanes Pembaptis." (Mat 17:10-13), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.
Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:
·   Nabi Elia adalah nabi besar pada zamannya dan sangat mengesan bagi umat yang percaya kepadanya, maka ketika tampil seseorang yang cukup besar namanya juga, yaitu Yohanes Pembaptis, umat bertanya-tanya apakah benar bahwa Elia telah datang kembali. Menanggapi pertanyaan tersebut Yesus, dengan kata-kata yang mungkin kurang jelas bagi mereka, mengatakan bahwa Elia memang telah datang kembali dalam diri Yohanes Pembaptis. Yohanes Pembaptis datang untuk mempersiapkan jalan bagi kedatangan Penyelamat Dunia, maka ia lebih besar daripada Elia, namun demikian banyak orang kurang mengenal dia. Warta Gembira hari ini mengingatkan kita semua bahwa Sang Penyelamat Dunia yang kita nantikan kedatanganNya akan datang dengan kesederhanaan dan kerendahan hati, maka hanya mereka yang hidup sederhana dan rendah hati akan mampu menerima dan memahami kedatangan Yohanes Pembaptis, bentara Penyelamat Dunia, maupun Sang Penyelamat Dunia. Maka dengan ini kami mengajak anda sekalian untuk hidup sederhana dan rendah hati, agar kita siap sedia menyambut kedatangan Penyelamat Dunia. Jauhkanlah aneka bentuk pemborosan dan foya-foya seraya mengingat dan memperhatikan saudara-saudari kita yang miskin dan berkekurangan. Selama masa adven kiranya juga diselenggarakan kegiatan aksi adven berupa pengumpulan uang atau harta benda, yang kemudian disumbangkan kepada mereka yang miskin dan berkekurangan, maka baiklah kami mengajak anda sekalian untuk berpartisipasi dalam kegiatan adven di lingkungan masing-masing, entah di sekolah, tempat kerja maupun di lingkungan umat Allah.

·   "Dalam olak angin berapi engkau diangkat, dalam kereta dengan kuda-kuda berapi. Engkau tercantum dalam ancaman-ancaman tentang masa depan untuk meredakan kemurkaan sebelum meletus, dan mengembalikan hati bapa kepada anaknya serta memulihkan segala suku Yakub. Berbahagialah orang yang telah melihat dikau, dan yang meninggal dengan kasih mereka, sebab kamipun pasti akan hidup pula" (Sir 48:9-11), demikian berita perihal anugerah Tuhan dalam diri Elia, nabi besar. "Berbahagilah orang yang telah melihat dikau, dan yang meninggal dengan kasih mereka, sebab kamipun pasti akan hidup pula", inilah yang mungkin baik kita renungkan atau refleksikan dalam rangka menantikan kedatangan Penyelamat Dunia. Marilah kita saling melihat anugerah Tuhan dalam diri kita, alias melihat dan mengimani aneka keutamaan dan nilai-nilai kehidupan yang kita hayati di dalam hidup sehari-hari. Nabi adalah orang yang hidup dan bertindak sesuai dengan kehendak Roh Kudus dan masing-masing dari kita sebagai orang beriman memiliki dimensi kenabian dalam diri kita, maka kita juga diharapkan hidup dan bertindak sesuai dengan kehendak Roh Kudus, sehingga cara hidup dan cara bertindak kita menghasilkan buah-buah Roh Kudus seperti "kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri" (Gal 5:22-23). Kita lihat dan imani buah-buah Roh tersebut dalam diri kita maupun sesama kita, dan kemudian kita perdalam dan tingkatkan penghayatan buah-buah Roh tersebut di masa adven ini. Salah satu buah Roh yang mungkin baik saya angkat untuk direfleksikan adalah penguasaan diri, mengingat dan memperhatikan menguasai diri sungguh mendesak dan up to date untuk kita hayati dan sebarluaskan. Jika kita tidak mampu menguasai diri dengan baik , maka berrelasi dengan orang lain kita pasti akan menindas atau melecehkan, sebaliknya jika kita dapat menguasai diri dengan baik, maka berrelasi dengan orang lain akan melayani dan membahagiakan. Hendaknya penguasaan diri ini sedini mungkin dibiasakan atau dididikkan pada anak-anak di dalam keluarga dengan teladan konkret dari para orangtua.

"Ya Allah semesta alam, kembalilah kiranya, pandanglah dari langit, dan lihatlah! Indahkanlah pohon anggur ini, batang yang ditanam oleh tangan kanan-Mu! Kiranya tangan-Mu melindungi orang yang di sebelah kanan-Mu, anak manusia yang telah Kauteguhkan bagi diri-Mu itu, maka kami tidak akan menyimpang dari pada-Mu. Biarkanlah kami hidup, maka kami akan menyerukan nama-Mu" (Mzm 80:15-16.18-19)

Jakarta, 11 Desember 2010